Coba Dua Minggu Smartwatch Lokal, Ini yang Bikin Saya Terkejut

Kenapa saya memutuskan coba smartwatch lokal selama dua minggu

Pagi hari di Jakarta, jam 6:15, saya menatap meja kecil di samping kopi: sebuah kotak smartwatch lokal warna matte yang baru saya terima. Keingintahuan saya lebih besar daripada ekspektasi; selama ini saya skeptis soal klaim fitur kesehatan dan daya tahan baterai dari produk lokal. Saya ingin bukti, bukan janji pemasaran. Target saya sederhana: pakai selama dua minggu penuh — tidur malam, kerja remote, meeting, lari pagi, dan perjalanan singkat — lalu tuliskan pengalaman nyata, bukan rangkuman teknis dari press release.

Hari pertama sampai hari ketiga: setting up, kegembiraan, dan keraguan

Proses setup berlangsung di kamar kerja saya, sekitar jam 20:00 sementara hujan ringan terdengar di jendela. Koneksi Bluetooth cepat, aplikasi pendamping menawarkan onboarding yang ramah. Di sinilah salah satu kejutan pertama: firmware update OTA hanya butuh 10 menit. Saya ingat berpikir, “Oh, ini bukan sekadar kosmetik.” Namun, keraguan muncul saat saya mengaktifkan GPS. Smartwatch ini tidak mengklaim GPS mandiri penuh — menggunakan connected GPS via ponsel — dan saya curiga akurasi lari di taman akan mengecewakan.

Pada hari ketiga saya mencoba lari 5 km di Lapangan Banteng jam 06:30. Hasilnya? Tracking pace sedikit meleset di beberapa titik belokan, tapi konsistensi jarak dan cadence cukup akurat untuk latihan harian. Data detak jantung real-time (PPG sensor) sempat naik-naik, namun rata-rata sejalan dengan chest strap saya yang saya pakai sebagai benchmark. Di momen itu saya berbisik ke diri sendiri: “Ini lebih baik dari bayangan awal.”

Minggu kedua: rutinitas, baterai, dan fitur kesehatan yang benar-benar berguna

Di minggu kedua saya lebih fokus pada aspek kesehatan: sleep tracking, SpO2 malam, dan pengingat aktivitas. Smartwatch ini merekam tidur ringan, dalam, dan REM dengan grafik yang mudah dibaca di aplikasinya. Malam pertama pengukuran SpO2 hasilnya cukup stabil; saya jadi sadar ada kebiasaan saya bernapas pendek saat stres kerja — sebuah insight kecil yang memicu perubahan sederhana: 10 menit pernapasan sebelum tidur. Itu momen reflektif yang saya catat: perangkat bukan hanya statistik, tapi alat pengingat untuk kebiasaan lebih sehat.

Daya tahan baterai menjadi cerita tersendiri. Dengan notifikasi aktif, pengukuran denyut jantung setiap 5 menit, dan pengujian SpO2 dua kali sehari, jam tangan ini bertahan sekitar 10 hari. Saya pernah lupa mengisi daya hingga hari ke-9 dan hampir panik sebelum menyadari indikator baterai tersisa 12% pada pagi hari. Pengisian penuh memakan waktu sekitar 1,5 jam — cukup efisien untuk perangkat dengan fitur yang lengkap.

Interaksi sehari-hari dan pengalaman pengguna: detail yang memberi nilai

Hal-hal kecil menunjukkan kualitas: kulit strap yang breathable, tombol fisik yang responsif saat berkeringat, layar yang masih terlihat di bawah sinar matahari siang. Notifikasi pesan bisa dibaca penuh, dan saya bahkan menjawab beberapa panggilan saat sedang memasak, yang terasa cukup jelas berkat mikrofon dan speaker bawaan. Tapi jangan berharap fitur panggilan super jernih—itu bukan claim mereka—meski cukup untuk percakapan singkat.

Satu hal menarik: komunitas pengguna. Saya menemukan thread diskusi di sebuah forum dan, lewat link piecesgr, membaca review pengguna lain yang memberi tips optimasi baterai. Komunitas ini membantu saya memahami update firmware dan fitur tersembunyi, sesuatu yang jarang disorot oleh ulasan biasa.

Kesimpulan dan apa yang saya pelajari setelah dua minggu

Setelah dua minggu, kesimpulan saya cukup jelas. Smartwatch lokal ini tidak sempurna — ada keterbatasan seperti GPS yang tergantung ponsel dan ketelitian sensor yang masih kalah tipis dibandingkan perangkat premium. Namun, untuk kebutuhan sehari-hari: kebugaran, tidur, notifikasi, dan durability, perangkat ini memberikan value yang nyata. Saya keluar dari pengalaman ini dengan tiga pembelajaran utama: pertama, jangan remehkan iterasi lokal—produk kini matang dan sering mendapat pembaruan bermakna; kedua, fitur kesehatan paling berguna bukan hanya akurasi teratas, tapi konsistensi dalam pemakaian dan insight yang mendorong perubahan kebiasaan; ketiga, komunitas pengguna sering jadi sumber informasi praktis yang membuat pengalaman lebih baik.

Saya pulang dari percobaan dengan rasa bangga kecil—bukan karena saya menemukan “alat ajaib”, tapi karena saya melihat kemajuan nyata di ekosistem teknologi lokal. Bagi pembaca yang mempertimbangkan smartwatch lokal, saran saya: pikirkan kebutuhan utama Anda, cek komunitas pengguna, dan jangan takut mencoba. Dua minggu cukup untuk tahu apakah perangkat itu teman sehari-hari Anda atau hanya pelengkap yang sekali pakai.